Setelah November
November-
Bulan kesakitan. Lara. Sedih
Sebenarnya rasa sakit itu datang dari diri kita sendiri.
Fikiran kita yang terlalu dalam ditambah hati yang setuju mengiyakan.
Dari situlah timbul 'kesakitan' yang selalu dipuja-puja kalangan ringis.
Apakah itu terjadi kepadaku?
Ah tidak. Tentu tidak
Hal ini terjadi,pada jiwaku yang melambung lantas membumbung. Lalu didetik akhir terpisah menjauh,terlepas menyeluruh.
Itulah-
Di bulan November, rintik-rintik air mulai menyapa
Gemuruh mulai mengeram tanda tak suka.
Tidak hanya rintik di atas saja, air di mata-pun tak sungkan untuk andil disana.
Kukembangkan payung hitamku tanda pilu.
Suara rintikan terdengar menerpa
sambil berusaha menahan tekanan airnya.
Aku berjalan-
Tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
Di perjalanan ada kayu menghalangi.
Ternyata ada yang sengaja menebangnya.
Itu tak lantas jadi masalah, aku masih bisa melewatinya.
Akupun berjalan lagi-
Dengan malu,cahaya mulai mengendap merdu memasuki celah payung hitamku yang lantas kumasukkan dalam saku
Aku tak membutuhkan payung lagi!
Garis lengkung tergambar di rautku, sedikit kebaikan terserap jauh.
Namun,
Ketika hampir ditengah-
Mendung kembali kalut. Memaksa agar hujan tersulut
Dalam biasnya cahaya yang mulai hanyut
Aku rasa tersudut tengah pekat sang kabut
Sampai akhir-
Sampailah.
Oh begitukah rupanya? Sejauh perjalanan
Ternyata.
Titik baru telah mengganti.
Payung hitamku mengembang lagi
Menyuruh tuk
Pulang-Kembali
Salam dingin dariku untukmu
Bulan kesakitan. Lara. Sedih
Sebenarnya rasa sakit itu datang dari diri kita sendiri.
Fikiran kita yang terlalu dalam ditambah hati yang setuju mengiyakan.
Dari situlah timbul 'kesakitan' yang selalu dipuja-puja kalangan ringis.
Apakah itu terjadi kepadaku?
Ah tidak. Tentu tidak
Hal ini terjadi,pada jiwaku yang melambung lantas membumbung. Lalu didetik akhir terpisah menjauh,terlepas menyeluruh.
Itulah-
Di bulan November, rintik-rintik air mulai menyapa
Gemuruh mulai mengeram tanda tak suka.
Tidak hanya rintik di atas saja, air di mata-pun tak sungkan untuk andil disana.
Kukembangkan payung hitamku tanda pilu.
Suara rintikan terdengar menerpa
sambil berusaha menahan tekanan airnya.
Aku berjalan-
Tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
Di perjalanan ada kayu menghalangi.
Ternyata ada yang sengaja menebangnya.
Itu tak lantas jadi masalah, aku masih bisa melewatinya.
Akupun berjalan lagi-
Dengan malu,cahaya mulai mengendap merdu memasuki celah payung hitamku yang lantas kumasukkan dalam saku
Aku tak membutuhkan payung lagi!
Garis lengkung tergambar di rautku, sedikit kebaikan terserap jauh.
Namun,
Ketika hampir ditengah-
Mendung kembali kalut. Memaksa agar hujan tersulut
Dalam biasnya cahaya yang mulai hanyut
Aku rasa tersudut tengah pekat sang kabut
Sampai akhir-
Sampailah.
Oh begitukah rupanya? Sejauh perjalanan
Ternyata.
Titik baru telah mengganti.
Payung hitamku mengembang lagi
Menyuruh tuk
Pulang-Kembali
Salam dingin dariku untukmu
dek definkuuu ternyata bakat nuliss :*
BalasHapusMasih amatiran kak ipa. Doanya ya :3
Hapus